-->

Senin, 18 Februari 2013

Tiga Perniagaan Yang Tidak Akan Merugi : 1. Membaca Al-Qur'an

Tiga Perniagaan Yang Tidak Akan Merugi
Oleh: K.H. Yakhsyallah Mansur, M.A.

Firman Allah:
  إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ(29) لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ    فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ
" Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, ( ) agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karuniaNya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri." (Q.S. Fathir: 29 – 30)

Penjelasan:
Pada dua ayat di atas, Allah menerangkan tiga perniagaan yang tidak akan merugi apabila dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, yaitu:
  1. Membaca kitabullah
  2. Mendirikan shalat
  3. Menafkahkan sebagian rizki yang diberikan Allah baik secara rahasia maupun terang-terangan.
Ketiga hal ini disebut perniagaan oleh Allah, karena apabila kita melakukannya seakan-akan kita berniaga dengan Allah dengan modal ketiga hal tersebut dan Allah berjanji akan memberikan keuntungan yang besar. Keuntungan tersebut diwujudkan dengan menyempurnakan pahalanya, satu berpahala sepuluh, atau berpahala tujuh ratus atau bahkan keuntungan itu dilipat gandakan hingga tak dapat dihitung nilainya. Di samping pahala yang sempurna, juga akan ditambah dengan karunia yang lain yang tidak terbayang sebelumnya. Di bawah ini akan dijelaskan ketiga hal tersebut di atas.

1. Membaca Al-Qur'an

Salah satu tanda keimanan kepada al-Qur'an adalah dengan membacanya. Hal ini ditegaskan oleh Allah:
- الَّذِينَ ءَاتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ أُولَئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ  - البقرة:  121
"Orang-orang yang telah Kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya..." (Q.S. al-Baqarah: 121)

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dalam beberapa sabdanya yang menjelaskan keutamaan membaca al-Qur'an ini,antara lain:
 - أَفْضَلُ عِبَادَةِ أُمَّتِي تِلاَوَةُ الْقُرْآنِ - رواه البيهقى
"Seutama-utama ibadah umatku ialah membaca al-Qur'an." (H.R. al-Baihaqi)

- مَنء قَرَأَ الْقُرْآنَ يَقُوْمُ بِهِ آناَءَ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ يُحِلُّ حَلاَلَهُ وَ يُحَرِّمُ حَرَامَهُ حَرَّمَ اللهُ لَحْمَهُ وَدَمَهُ عَلَى النَّارِ - رواه ابن ماجه
"Barangsiapa membaca al-Qur'an dan berdiri dengan membacanya pada sebagian malam dan sebagian siang, dia menghalalkan apa yang dihalalkan al-Qur'an dan mengharamkan apa yang diharamkan al-Qur'an, niscaya Allah mengharamkan dagingnya dan darahnya atas api neraka." (H.R. Ibnu Majah)

- يَا أَهْلَ الْقُرْآنِ لاَ تَسَوَّدُوا الْقُرْآنَ وَاتْلُوهُ حَقَّ تِلاَوَتِهِ آناَءَ اللَّيْلِ وَ آناَءَ النَّهَارِ وَافْشَوْهُ وَتُدَبَّرُوا لِمَا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ - رواه البيهقى
"Hai ahl al-Qur'an, janganlah kamu jadikan al-Qur'an sebagai bantal. Bacalah dengan sebaik-baiknya pada sebagian malam dan sebagian siang. Sebarkanlah dia dan perhatikanlah isinya dengan sungguh-sungguh, mudah-mudahan kamu beruntung." (H.R. al-Baihaqi)

Mengingat keutamaan-keutamaan membaca al-Qur'an seperti yang disebutkan di atas maka wajarlah apabila para ulama salaf sangat memperhatikan dan bersungguh-sungguh dalam membaca al-Qur'an ini. Ada diantara mereka yang mengkhatamkannya dalam dua bulan sekali, sebulan sekali, sepuluh hari sekali, delapan hari sekali, tujuh hari sekali, dan seterusnya. Menurut perintah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, yang terbaik memang mengkhatamkan al-Qur'an dalam masa tujuh hari. Banyak para sahabat yang mengamalkan perintah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, antara lain Ubay bin Ka'ab dan Utsman bin Affan. Utsman bin Affan biasa mulai pembacaannya pada malam Jumat sampai surat al-Maidah. Pada malam Sabtu menyambungnya dari surat Yusuf sampai surat Maryam, pada malam selasa dari surat al-'Ankabut sampai surat Shad, pada malam Rabu, dari surat az-Zumar sampai surat ar-Rahman, pada malam Kamis menghkhatamkannya sampai akhir al-Qur'an.

Kebanyakan ulama menghukumi makruh mengkhatamkan al-Qur'an dalam tempo kurang dari tiga hari. Hal ini berlandaskan dengan hadits:
- لاَ يَفْقَهُ الْقُرْآنَ مَنْ قَرَأَهُ فِي أَقَلَّ مِنْ ثَلاَثٍ - رواه ابو داود و النسائى
"Tidak akan memahami al-Qur'an, orang-orang yang mengkhatamkan al-Qur'an dalam tempo kurang dari tiga hari." (H.R. Abu Dawud dan an-Nasai)

Imam An-Nawawi berkata, "Yang paling baik ialah kita baca al-Qur'an sambil memahamkan artinya dengan sempurna dan tidak mengganggu kemaslahatan yang lain." Oleh karena itu, jangan sampai ada hari-hari kita yang kosong dari membaca al-Qur'an. Apabila kita belum bisa meniru kebiasaan para ulama salaf di atas, sebaiknya jangan sampai dalam setiap harinya kita membaca al-Qur'an kurang dari 50 ayat, mengingat sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam:

مَنْ قَرَأَ كُلَّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ خَمْسِيْنَ آيَةً لَمْ يُكْتَبْ مِنَ الغَافِلِيْنَ وَمَنْ قَرَأَ مِائَةُ آيَةٍ كُتِبَ مِنَ الْقَانِتِيْنَ وَمَنْ قَرَأَ مِائَتَيْنِ آيَةً لَمْ يُحَاجَّهُ الْقُرْآنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ   - وَمَنْ قَرَأَ خَمْسَمِائَةٍ كُتِبَ لَهُ قنْطَارٌ مِنَ الْأَجْرِ - رواه ابن السنى , حديث حسن
"Barangsiapa membaca al-Qur'an tiap sehari semalam lima puluh ayat, tidaklah dia dicatat sebagai orang-orang lalai. Dan barangsiapa membaca seratus ayat, dia dicatat sebagai orang yang tunduk kepada Allah. Dan barangsiapa membaca dua ratus ayat, terhindarlah dia dari orang-orang yang didebat al-Qur'an di hari kiamat. Dan barangsiapa membaca lima ratus ayat, dicatat untuknya pahala yang banyak." (H.R. Ibnu Suni, hadits ini hasan)

Faidah Membaca Al-Qur'an

  1. Pembaca Al-Qur'an ditempatkan di dalam shaf orang-orang yang utama dan tinggi.
  2. Pembaca Al-Qur'an memperoleh kebajikan dari tiap-tiap huruf yang dibacanya dan bertambah tinggi derajatnya di sisi Allah sebanyak kebajikan yang diperolehnya.
  3. Pembaca Al-Qur'an dinaungi dengan payung rahmat, dikelilingi oleh para malaikat dan diturunkan Allah kepadanya ketenangan dan kewaspadaan.
  4. Pembaca Al-Qur'an hatinya dicemerlangkan oleh Allah dan dipelihara dari kegelapan.
  5. Pembaca Al-Qur'an dipelihara nama baiknya, disegani dan dicintai oleh orang-orang shalih. Apabila ia memperbagus bacaan dan hapalannya, maka akan dapat mencapai derajat malaikat.
  6. Pembaca Al-Qur'an tidak akan gundah hatinya di hari kiamat karena senantiasa dalam pemeliharaan dan penjagaan Allah.
  7. Pembaca Al-Qur'an memperoleh kemuliaan dan diberikan rahmat kepada bapak ibunya.
  8. Pembaca Al-Qur'an memperoleh kedudukan yang tingg di dalam surga.
  9. Pembaca Al-Qur'an memperoleh kedudukan dan derajat seperti yang diingini oleh orang-orang yang shalih.
  10. Pembaca Al-Qur'an ditemani dan dikelilingi oleh para malaikat, semuanya mendoakan dan memohonkan ampun dan derajat yang tinggi.
  11. Pembaca Al-Qur'an terlepas dari kesusahan-kesusahan akhirat.
  12. Pembaca Al-Qur'an termasuk orang yang dekat kepada Allah, berada dalam rombongan orang-orang yang mengiringi Allah di hari kiamat.

Adab Membaca Al-Qur'an

Allah berfirman:
- وَرَتِّلِ الْقُرْءَانَ تَرْتِيلًا - المزمل: 4....
"... Dan bacalah Al Qur'an itu dengan perlahan-lahan." (Q.S. al-Muzammil: 4)

Yang dimaksud tartil adalah membaca dengan menyempurnakan hak-hak huruf, mad, tidak terlalu cepat, dan perlahan-lahan karena dengan demikian akan lebih mudah memahami isinya dan meresapkannya ke dalam hati.
Berdasarkan ayat ini, para ulama bersepakat bahwa al-Qur'an wajib dibaca dengan tajwid.

Cara membaca al-Qur'an itu ada tiga macam:
 Qira'ah al-tahqiq (قراءة التحقيق) yaitu membaca dengan memberikan hak tiap huruf dengan sempurna.
 Qira'ah al-Hadr (قراءة الهدر) yaitu membaca agak cepat tetapi tidak sampai merusakkan makna.
 Qira'ah al-tadwir (التدوير قراءة) yaitu membaca dengan sederhana, antara cepat dan perlahan.

Adapun adab membaca al-Qur'an dapat kita bagi menjadi dua adab batin dan adab lahir.

Adab-adab batin membaca al-Qu'an, ialah:

1. Membaca dengan tadabbur
Yaitu memperhatikan sungguh-sungguh akan janji baik dan janji buruk, harapan dan ancaman, hikmah yang terkandung di dalam al-Qu'an, hukum-hukumnya serta mengambil pelajaran dari padanya.
Sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam:
- وَيْلٌ لِمَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَلَمْ يَتَدَبَّرْهُ - رواه ابن حبان
"Celakalah orang yang membaca al-Qur'an dan dia tidak memperhtikan isinya." (H.R. Ibnu Hibban)
Ibnu Mas'ud berkata, "Bacalah al-Qu'an selama al-Qu'an mencegahmu (dari maksiat). Jika ia tidak mencegahmu, berarti engkau belum membacanya."

Anas bin Malik berkata, " Berapa banyak orang membaca al-Qu'an sedang al-Qu'an melaknatnya."
Ulama-ulama salaf dahulu ada yang membaca sebuah ayat al-Qu'an sepanjang malam dengan mentadabburkannya hingga jatuh pingsan, bahkan ada yang mati karenanya.

2. Membaca dengan ikhlas
Yakni semata-mata karena Allah dengan membulatkan pikiran dan hati, bahwa kita sedang munajat dengan Allah. Karena itu, hendaknya kita berkelakuan sopan, seolah-olah kita berada di hadapan-Nya.

3. Membaca dengan cara yang dapat menghasilkan bekas pada diri sendiri.
Firman Allah:
- 109 : وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا - الاسراء
"Dan mereka tersungkur pada dagunya sambil menangis dan mereka bertambah khusyu'" (Q.S. al-Isra': 109)

Sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam:
- اُتْلُوْ الْقُرْآنَ وَابْكُوْ فَإِنْ لَمْ تَبْكُوا فَتَبَاكَوْا - رواه ابن ماجة
"Bacalah al-Qur'an dan menangislah. Kalau tidak juga menangis, buatlah dirimu menangis." (H.R. Ibnu Majah)

Oleh karena itu, para ulama sering mencucurkan air mata ketika membaca al-Qur'an, karena hati mereka sangat terpengaruh oleh bacaan yang mereka baca.

Disebut dalam syarh kitab al-Muhadzdzab, "Cara untuk dapat menangis ialah dengan memperhatikan sungguh-sungguh apa yang dibaca tentang berbagai macam ancaman dan peringatan, serta mengenangkan kelalaian dirinya dari melaksanakan perintah-perintah Allah. Jika kenangan dan ingatan-ingatan seperti itu tidak dapat mempengaruhi jiwa kitak, maka menangislah atas kekesatan hati kita yang seperti itu."

4. Membaca dengan khusyu' dan khudlu'
Khusyu' dan khudlu' (tunduk) ketika membaca al-Qur'an  dapat melapangkan dada dan menjadikan hati terang benderang.

Sedangkan adab-adab lahir membaca al-Qur'an, antara lain:
  1. Membaca al-Qur'an dengan berwudlu', walau tidak dimakruhkan membacanya bagi orang yang berhadats
  2. Membersihkan mulut lebih dahulu, menggosok gigi atau bersiwak sebelum membaca al-Qur'an.
  3. Membaca al-Qur'an di tempat yang bersih dan mulia
  4. Membaca al-Qur'an menurut tertib mushaf kecuali pada tempat yang ada nash dari syara', misalnya membaca surat Kahfi setiap hari Jumat, membaca surat-surat tertentu pada waktu shalat.
  5. Membaca ta'awudz sebelum membacanya dan membaca basmalah di awal tiap-tiap surat, kecuali di awal surat al-Bara'ah.
  6. Menghindarkan diri dari memutus bacaan karena berbicara dengan sesorang. Abdullah bin 'Umar radliyallahu 'anhu apabila membaca al-Qur'an, tidak pernah berbicara dengan seorangpun sebelum ia selesai membaca.
  7. Membaca dengan suara dan lagu yang bagus, terjauh dari riya dan menjaga agar pembacaan itu jangan sampai keluar dan peraturan ilmu tajwid. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
- لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ يَجْهَرُ بِهِ - رواه البخاري
"Bukan termasuk golongan kami yang tidak membaguskan bacaan al-Qur'an dengan suara keras." (H.R. al-Bukhari)

Bersambung .....
Bagikan Catatan Ini
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

1 komentar

  1.  Dengan surat As Saaf (QS 61:9-14), Allah menata mukmin dalam barisan (saaf) bersusun dari generasi ke generasi sampai hari penghakiman, untuk berjihad menyampaikan perintah kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar kepada seluruh umat manusia, dengan memberi kemuliaan pahala tertinggi sebagai balasanya.

    PERTANYAANYA / PERSOALANYA :
    1. Sudahkah kita beritahukan kepada “ahli kitab dan umatnya” untuk beriman kepada Allah? Karena kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. Ali Imran (QS 3:110)
    2. Sudahkah kita berlaku adil kepada semua kaum dengan menyampaikan kebenaran dalam Al-Quran baginya (menegakan kebenaran). Al Maidah (QS 5:8)
    3. Sudahkan kita menjadi pembawa berita gembira(1) dan pemberi peringatan(2) ketika terputus (pengiriman) Rasul-rasul agar mereka tidak mengatakan: "tidak ada datang kepada Kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan". Al Maidah (QS 5:19)
    4. Sudahkah kita bercermin kepada protype/model kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Al Maidah (QS 5:54)
    5. Sudahkan kita menyampaikan apa yang diturunkan Allah (untuk orang kafir). dan jika tidak/belum melakukan apa yang diperintahkan itu, berarti tidak/belum menyampaikan amanat-Nya. Al Maidah (QS 5:67)
    6. Sudahkan kita sadari ayat mana saja untuk disampaikan, Allah mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan! Al Maidah (QS 5:99)
    Yang mengandung seruan langsung adalah : surat ALI IMRAN (QS 3: 64,65,70,71,98,99), surat AN NISA (QS 4:171) dan surat AL MAIDAH (QS 5:15,19,59,68,77)
    7. Sudahkah kita memberi kabar gembira dengan Al Quran yang telah dimudahkan dengan bahasa kita kepada orang-orang yang bertakwa dan memberi peringatan dengannya kepada kaum yang membangkang. Maryam (QS 19:93)
    8. Sudahkah kita sadar dan menyikapi dengan benar terhadap perkara yang sangat munkar menurut Allah. Maryam (QS 19:87 s/d 92)

    BalasHapus

 
© 2011 Catatan Ka' Mis
Released under Creative Commons 3.0 CC BY-NC 3.0
Posts RSSComments RSS
Back to top